Ekonomi Sulit, Pembelajaran Daring Membuat Orang Tua Merasa Semakin ‘Tercekik’

Ruangguru.my.id_ Banyak masyarakat yang terkena imbas pandemi. Ada yang terkena pemutusan hubungan kerja atau PHK, usaha yang sepi atau bangkrut.


Pendapatan berkurang drastis bahkan terhenti namun sejumlah kebutuhan ada yang tak bisa ditawar lagi. Selain kebutuhan pokok sehari-hari, banyak orang tua kini mengeluhkan biaya belajar anak di tahun ajaran baru.

Di masa tahun ajaran baru ini, mayoritas anak sekolah melakukan pembelajaran jarak jauh atau daring. Dibutuhkan perangkat teknologi yang memadai dan kuota internet yang cukup. Bukan hal mudah bagi orang tua yang benar-benar terdampak Covid-19.

Terkait dengan hal ini, sejumlah orang tua siswa tidak mampu di Kabupaten Banyumas Jawa Tengah keberatan dengan pembelajaran jarak jauh, karena mereka tidak mampu membeli handphone Android atau membeli kuota internet.

Sebagian besar keluarga yang tidak bisa menyediakan fasilitas belajar dengan jarak jauh atau daring adalah warga tidak mampu. Warga terdampak corona dan warga penerima program Keluarga Harapan ( PKH).

Lasmi (42) warga Langgongsari Kecamatan Karanglewas Kabupaten Banyumas mengaku, tidak mampu membelikan HP android, bahkan membeli kuota interet saja keberatan.

"Anak saya Adnan, kelas enam di SD Negeri Langgosari, sekarang tidak bisa ikut grup belajar melalui HP. Biasanya pakai HP saya tapi lagi rusak, kalau untuk beli lagi tidak punya uang untuk makan saja susah," terangnya.

Sebelum ada pandemi untuk kebutuhan sehari hari memngandalkan bantuan daru pemerinah. Namun sejak ada pandemi ekonomi keluarga semakin merosot, pedapatannya turun drastis hanya dia yang bekerja untuk menanggung beban keluarga.Sebab Suaminya dan anak laki laki pertamanya menganggur, keduanya sebagai sopir dan kenek truk terkena PHK, imbas dari corona.

Selian Adnan, banyak rekannya di SD Negeri Langgongsari yang bernasib sama, tidak bisa belajar secara virtual maupun tatap muka.

Ade siswa kelas 5 di seolah yang sama juga tidak bisa bergabung belajar melalui kelompok grup belajar daring di sekolahnya. Karena orang tuanya miksin dan tidak mampu membelikan HP android.

Darti ibunya tidak mampu menyediakan HP, dia memilih anaknya untuk menunda sekolah sampai akhir tahun sampai kondisi normal. Menunggu hingga kegiatan belajar disekolah normal kembali, belajar secara tatap muka.

"Untuk makan sehari hari saja susah, selama ini kami tidak pernah memiliki HP. Oleh karena sementara ini anak saya tidak sekolah dulu, menunggu sekolah seperti biasa, seperti dulu," kata Darti.

Sementara Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Padmaningsih di Semarang mengatakan, untuk pembelajaran jarak jauh pemerintah akan menanggung biaya kuota internet.

Hal tersebut sudah diatur dalam Permendikbud No 19 Tahun 2020. Yakni diperbolehkan menggunakan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Namun, untuk besarannya disesuaikan dengan kemampuan sekolah masing-masing.

"Iya, memang diperbolehkan menggunakan dana BOS untuk pembelian kuota internet untuk siswa dan guru dalam melaksanakan pembelajaran jarak jauh. Tapi anggarannya disesuaikan dengan kemampuan sekolah. Di samping itu juga, ada peruntukan dana BOS yang lain sesuai aturannya," jelasnya.

Sejauh ini, belum ada sumber anggaran khusus yang lain untuk pembelian kuota internet sebagai sarana pembelajaran jarak jauh."Belum ada anggaran lain. Tapi masih kita musyawarahkan untuk mencari solusi-solusi," katanya.

Terkait kendala yang dihadapi siswa yang berada di lokasi sulit akses internet atau tidak memiliki HP, guru bisa mengunjungi siswa untuk memberikan pembelajaran.

"Atau bisa mengirim materi pelajaran ke siswa dan tugas, nanti dikirim ke gurunya jika sudah selesai. Memang ada daerah yang susah sinyal. Tapi kami berupaya proses pembelajaran tetap bisa dilakukan," ungkapnya.

Selain itu, saat ini sudah terbentuk Tim Persiapan Pembelajaran Sesuai Kebiasaan Baru. Tim tersebut nantinya menggodok konsep penerapan pembelajaran dalam kondisi New Normal.

"Senin depan kita akan rapat soal konsep tim ini. Kita berharap pembelajaran bisa dilakukan sesuai protokol kesehatan, yang konsep dan teknisnya masih kami godok," tandasnya.

Sumber : rakyat.com

Demikian berita dan informasi terkini yang dapat kami sampaikan. Kami senantiasa memberikan berita dan informasi terupdate dan teraktual yang dilansir dari berbagai sumber terpercaya. Terima Kasih atas kunjungan anda semoga informasi yang kami sampaikan ini bermanfaat.
loading...

Belum ada Komentar untuk "Ekonomi Sulit, Pembelajaran Daring Membuat Orang Tua Merasa Semakin ‘Tercekik’"

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel